Sabtu, 04 Januari 2014

Kamis, 19 Desember 2013

daeng amir: berpose usai apel kesiapan bersama dengan teman-teman media, kamis, 19 Desember  (mg6)

UKK Pramuka Tuan Rumah KMD se-Ajatapparen

 
PAREPARE -- Unit Kegiatan Khusus (UKK) Pramuka STAIN Parepare menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan Kursus Pembina Dasar Mahir (KMD) se-Ajatappareng. Kegiatan bertemakan “Menjadikan KMD sebagai wadah dalam menambah kreativitas para pembina pramuka” ini berlangsung selama satu minggu yang dimulai sejak 18-24 November 2013.
Herman sebagai pejabat sementara Ketua Dewan Putra Racana Albadi Gugus Depan juga sebagai panitia dalam kegiatan tersebut, mengatakan, kegiatan ini berlangsung selama satu minggu dan berakhir di Pantai Tonrangeng. "Untuk teorinya kami gunakan gedung Auditorium dan prakteknya di Pantai Tonrangeng,” katanya, kemarin.
Selanjutnya, yang menjadi peserta dalam kegiatan ini adalah para pembina dari berbagai sekolah di Ajatappareng. Selain itu juga ada dari perwakilan STAIN Bone yang bukan wilayah Ajatappareng. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas pembina dan kualitas SDM para pembina.
"Melalui kursus yang dulunya mereka hanya mendapatkan sertifikat biasa, kini jika ingin menjadi seorang pembina yang berkualitas harus melalui sertifikasi dengan mengikuti kursus seperti ini,” terangnya.
Setelah mereka mendapatkan materi selanjutnya peserta mempraktikkannya di lokasi perkemahan yakni di Pantai Tonrangeng. "Ini agar mereka bisa mengaplikasikannya nanti di sekolahnya masing-masing,” tambah Indra, panitia lainnya. (mg6/sli)

STAIN Dorong Peningkatan SD


PAREPARE -- Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare fokus mendorong peningkatan kualitas SDM pegawai dan dosen di kampus hijau itu.
Ini ditekankan Wakil Ketua I bidang Pendidikan Dr Ahmad Sultra Rustan MSi saat membuka Workshop Pengembangan Administrasi Umum dan Akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare, di Hotel Pare Wisata, Jumat malam. Workshop berlangsung selama tiga hari, 22-24 November. Sejumlah pegawai dan staf umum menjadi peserta dalam workshop tersebut.
Wakil Ketua I menekankan pada kinerja pegawai agar lebih ditingkatkan lagi. Pegawai yang malas-malasan agar lebih disiplin lagi. "Dan jadikan workshop ini sebagai sumber informasi,” pesannya.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Dr Abdul Khalik mengatakan, ini merupakan program tahunan STAIN dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kemitraan.
"Pimpinan menginginkan dari tahun ke tahun ada workshop seperti ini sebagai upaya apresiasi dan semacam restorasi mindset para pegawai untuk menyambut perubahan-perubahan yang akan datang," ujarnya.
Itu agar lembaga STAIN kata dia, lebih berkualitas dan kompetitif dalam perubahan. Menurut dia, begitu banyak program-program yang direncanakan tanpa didukung SDM dan civitas akademik tidak akan tercapai secara maksimal.
Khalik mengharapkan, dalam workshop ini bisa menciptakan PNS STAIN yang punya loyalitas dalam pelayanan, kesadaran dan kepatuhannya terhadap tupoksinya missioner. "Dan tentunya bekerja dengan semangat yang tinggi dan berorientasi pada kinerja pelayanan prima,” katanya. (mg6/sli)

Fortanas Dorong Dewan Kehormatan Guru

PAREPARE — Dewan Kehormatan Guru sudah mendesak dibentuk dan diaktifkan. Ini untuk mengeliminir guru bersentuhan langsung dengan hukum saat menjalankan tugasnya karena terindikasi tindakan kekerasan.
"Jadi tugas Dewan Kehormatan Guru ini dalam hal pembinaan jika memang hanya pelanggaran biasa saja. Namun jika pelanggaran seorang guru itu masuk ke pidana umum maka akan dilanjutkan ke kepolisian. Tapi kalau masih batas kewajaran dan bisa ditolerir polisi bisa tidak melanjutkan,” kata Ketua Forum Ketahanan Nasional (Fortanas) Parepare H Bakhtiar Syarifuddin menindaklanjuti salah satu poin hasil focus group discussion (FGD) membahas soal kekerasan dalam pendidikan dan UU perlindungan anak di Kafe Lamire Rest, 2 Desember lalu.
Dewan Kehormatan Guru (DKG) menurut dia, dapat membantu guru dalam tugasnya memberikan, pengajaran, pembinaan, kepada peserta didik. Tidak lagi menimbulkan keresahan pada guru. "Insya Allah rekomendasi ini akan kami sampaikan langsung ke Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional,” janjinya.
Rekomendasi lain dalam FGD yang mengusung tema “Meneropong Dampak Undang-undang Perlindungan Anak Terhadap Mutu Pendidikan dan Moralitas Anak bangsa” itu adalah pertama memperhatikan Undang-undang (UU) Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Yang dimaksudkan untuk melindungi anak generasi bangsa dari tindakan kekerasan yang mendukung tujuan pendidikan nasional, diharapkan kepada guru tenaga pendidik tidak melakukan tindak kekerasan kepada anak/siswa dalam mendidik.
Kedua, seorang guru tenaga pendidik dalam menangani anak yang bermasalah agar memahami permasalahan anak. Ketiga, diharapkan kepada pihak kepolisian dalam menangani kasus dugaan tindak kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa, agar terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Dewan Kehormatan Guru.
Keempat, diharapkan kepada Pemkot Parepare, agar membentuk dan mengaktifkan Dewan Kehormatan Guru. Serta kelima, Pemkot Parepare diharapkan agar dapat memfasilitasi diskusi dan komunikasi yang melibatkan guru, siswa dan orangtua siswa, serta stakeholder pendidikan.
"Hasil diskusi itu, kami lebih menegaskan pada poin ketiga untuk segera membentuk dan mengaktifkan Dewan Kehormatan Guru," tegas Bakhtiar. (mg6/sli)

Lindungi Anak, Jangan Cederai Guru

Fortanas Samakan Persepsi UU Perlindungan Anak
PAREPARE — Peringati Hari Guru Nasional, Forum Ketahanan Nasional (Fortanas) Parepare, membuat kegiatan yang berbeda. Mengangkat tema “Meneropong Dampak Undang-undang Perlindungan Anak Terhadap Mutu Pendidikan” dalam sebuah focus group discussion (FGD) di Kafe Lamire Rest, Sabtu 30 November, Fortanas bahas soal perlindungan anak dan peran guru dalam mendidik. 
Menurut Ketua Fortanas Parepare H Bakhtiar Syarifuddin, perlu dibangun persamaan persepsi soal UU perlindungan anak khususnya terkait kalimat tindakan kekerasan terhadap anak. "Perlu ada persamaan persepsi terhadap tindakan kekerasan itulah mengapa dalam diskusi ini kami melibatkan guru dan aparat penegak hukum," ujarnya Bakhtiar.
Menjadi narasumber dalam diskusi adalah H Ahmad SAg SPSi MSi, dosen psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Kasat Reskrim Polres Parepare AKP Wahyudi Rahman SH SIK MM, sejumlah guru khususnya guru BK dan agama dari semua tingkatan sekolah.
Dalam diskusi itu, Bakhtiar memaparkan bahwa, UU sistem pendidikan nasional memerintahkan untuk mencerdaskan anak bangsa, sebagai penerus cita-cita bangsa diberi pendidikan, bagaimana bermoral, dan beretika yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Selain itu UU No14 tahun 2005 tentang guru menyebutkan orang yang diperintahkan oleh negara untuk menyukseskan sistem pendidikan nasional. Karena guru adalah pendidik yang profesional sehingga diberi tugas oleh negara mencerdaskan anak bangsa tapi di lain sisi UU perlindungan anak telah mempertemukan guru menjadi penghambat mereka dalam keprofesionalannya. Karena sejak diberlakukannya UU perlindungan anak ada kekhawatiran bahkan terjadi keresahan terhadap tenaga pendidik dalam pencapaian keprofesionalan seorang guru.
Secara garis besar UU sistem pendidikan nasional dilahirkan anak-anak yang beretika, berakhlak mulia dan berbudi pekerti. Sedangkan di UU guru juga diberikan hak untuk memberikan sanksi kepada peserta didik. Padahal di UU perlindungan anak menyebutkan anak itu harus dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru. Sehingga banyak melahirkan penafsiran-penafsiran bahwa inilah yang termasuk tindakan kekerasan.
Walikota HM Taufan Pawe dalam kesempatan itu, mengatakan ada tiga pintu yang harus dilalui dalam merancang sebuah UU di antaranya asas manfaat, asas keadilan, dan asas kepastian hukum. Nah ketiga pintu inilah yang harus dilalui dalam merancang sebuah UU.
"Berbicara masalah sistem pendidikan nasional yang utamanya itu bagaimana pemerintah mempunyai syahwat yang kuat untuk merancang dan memberikan suatu perhatian terkait biaya pendidikan yang dibebankan oleh APBN," katanya.
Olehnya itu pemerintah kota berusaha melakukan kemitraan-kemitraan baik diskusi dengan semua stakeholder membantu dalam menjadikan Parepare sebagai mercusuar pendidikan yang beretika dan bermoral. (mg6/sli)

Limbah Laut jadi Pundi Penghasilan

PAREPARE -- Adalah Norma, berhasil memanfaatkan limbah laut tak bernilai menjadi pundi pundi penghasilan, hanya dengan sedikit sentuhan kreatifitas tangannya.
Kerang-kerang kering yang berserakan di bibir pantai hanya menjadi limbah bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Namun tidak bagi Norma, honorer di kantor kelurahan Cempae ini justru menjadikan kerang-kerang tersebut menjadi produk ekonomis yang layak jual.
Ide awal muncul di benak Norma saat ia hanya iseng-iseng memungut kepingan kerang-kerang tersebut lalu dirangkainya hingga berbentuk yang akhirnya menjadi accessories yang cantik. Meskipun ia mengakui, bahwa kerangka yang tercipta dari tangannya belumlah sempurna.
Ia mengaku masih butuhkan pengajaran dari tenaga ahli. Ia sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) yang melaksanakan KKN di daerahnya sehingga Norma mendapat pembelajaran dan bimbingan hingga terampil.
Saat ini, usahanya telah tersebar di mana-mana, bahkan hingga ke Makassar. Untuk memasarkan buatan tangannya perempuan kreatif ini mengadopsi konsep yang ia namakan 'titip jual'. Artinya barang dagangannya ia titip ke pedagang untuk dijual, tentu dengan hasil kesepakatan dengan penjual.
Dengan sistem konsinyasi (titip jual) tersebut, mampu meraup omzet hingga Rp5 juta sekali produksi. "Bahan yang digunakan dalam produksi ini tidak mahal dan tidak mengeluarkan banyak biaya sehingga rata-rata omzet capai Rp 5 juta/produksi," ujar Norma ditemui dalam kesibukannya meracik kerang-kreang kreasinya menjadi accesories menarik.
Accesories dengan bahan baku kerang berhasil diciptakannya berupa sandal hias, tempat tissu, vas bunga, bros, cermin hias, gantungan kunci, baki, dan jenis-jenis lain berdasarkan pesanan. "Harga keseluruhan macam-macam hiasan bervariasi, tapi dengan harga murah dan memuaskan," promosi Norma.
Norma mengakui hiasan ciptaannya itu, khususnya tempat tissu akan dijadikan salah satu produk yang akan dilombakan pada tingkat provinsi. Saat ini ia melakukan menitipjualkan barang hiasannya di Carlos, dan hotel Kenari (mg8-mg6/b)

Kamrussamad Dialog Demokrasi di STAIN


PAREPARE -- Tokoh muda visioner Ir Kamrussamad MSi berbagi kiat dan berdialog soal demokrasi dengan sejumlah mahasiswa STAIN Parepare, awal pekan lalu. Kamrussamad diundang menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Refleksi Nusantara 2013, mengusung tema ”Outlook Demokrasi Indonesia 2014 (meneropong peran strategis pemuda mahasiswa di pemilu 2014). Kegiatan ini digelar oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare di Auditorium STAIN.
Sekretaris panitia Asdarsir mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan soal berdemokrasi yang baik dan memperkenalkan kepada mahasiswa bagaimana menyampaikannya kepada masyarakat tentang berdemokrasi yang baik. Ini menyambut pesta demokrasi 2014 mendatang. Sejumlah organisasi mahasiswa eksternal kampus diundang di antaranya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), beberapa organisasi di Parepare, dan organisasi mahasiswa internal STAIN.
Dalam pengantarnya Kamrussamad memberikan pemahaman tentang tiga pilar demokrasi. Pertama politik, pendidikan, dan media massa. Inilah yang perlu dipahami oleh setiap pemerintah maupun mahasiswa yang hadir pada kesempatan tersebut.
"Jika memiliki konsep yang baik untuk menjalankan sebuah pemerintahan maka akan baik pula hasilnya. Selanjutnya peran media massa sangat dibutuhkan dalam pemberian informasi dan sebagai kontrol sosial,” kata figur yang dekat dengan pendiri Partai Gerindra Probowo Subianto ini. Kamrussamad adalah Ketua Gerindra Pangkep, yang saat ini maju menjadi caleg DPR RI dari Gerindra nomor urut 2 daerah pemilihan Sulsel II. (mg6/sli)

Senin, 09 Desember 2013


Rabu, 06 November 2013


Jumat, 27 September 2013


Selasa, 24 September 2013


Rabu, 21 Agustus 2013